MEMBUMIKAN KEPEDULIAN UNTUK KELESTARIAN BUMI

MEMBUMIKAN KEPEDULIAN UNTUK KELESTARIAN BUMI

Go Green sebagai bentuk gerakan kepedulian untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan patut didukung oleh siapapun, termasuk korporasi seperti PT Sarana Multigriya Finansial (SMF). Dukungan dan komitmen bersama harus terus-menerus disuarakan karena saat ini kerusakan bumi kian masif.

Hutan sebagai paru-paru dunia terus dibabat. Kayunya dipakai untuk berbagai keperluan, sedangkan lahannya dipakai untuk permukiman, perkebunan, pertanian maupun industri. Yang lebih buruk lagi, acapkali lahan bekas hutan dibiarkan merana, gundul, dan gersang. Alhasil, saat turun hujan lebat, tanah kehilangan kemampuannya untuk menahan laju air hujan. Bencana banjir dan tanah longsor tak terhindarkan. Tak hanya itu, pembabatan hutan juga menyumbang global warming, yakni meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, baik di udara, laut maupun daratan bumi.

Tanah sebagai sumber kehidupan manusia terus kehilangan kesuburan, dan semakin tercemar. Ada 1001 penyebab pencemaran tanah, antara lain, limbah domestik dan industri, baik limbah padat maupun cair; limbah pertanian akibat pemupukan, penyemprotan pestisida, herbisida dan DDT, dan sebagainya.

Kondisi air di bumi pun tak jauh berbeda nasibnya. Pencemaran terjadi dimana-mana, baik air tanah, sungai, danau, maupun laut. Selain pencemaran akibat buangan limbah cair, baik dari akvitias domestik, industri maupun pertanian, keberadaan sampah plastik merupakan problem besar yang kini terus menghantui. Di laut, yang eksosistemnya demikian kaya, menghadapi kerusakan yang tidak bisa diperbaiki akibat jutaan ton sampah yang masuk ke laut setiap tahun. Tak berlebihan jika Koordinator PBB untuk Lingkungan Laut dan Pantai, Lisa Svensson, menyebut kondisi tersebut sebagai “Krisis planet. Kita merusak ekosistem laut.”

Indonesia termasuk salah satu negara sebagai penyumbang krisis tersebut. Menurut hasil riset Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, yang dipublikasikan di Jurnal Science, pada 12 Februari 2015, Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua dari 192 negara. Jumlah sampah plastik Indonesia yang dibuang ke laut diperkirakan mencapai sebesar 187,2 juta ton, hanya kalah dari Cina yang membuang plastik ke laut sebesar 262,9 juta ton.

Pencemaran udara tak kalah bikin miris. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan lebih dari 80% orang yang tinggal di kota-kota besar terpajan polusi udara melewati ambang batas. Semua kawasan di dunia terkena dampak polusi udara dan penduduk yang memiliki penghasilan rendah yang paling terkena dampaknya. Sumber polusi udara, antara lain, dari emisi sarana transportasi, pabrik/industri, kebakaran hutan, maupun aktivitas rumah tangga.

Kerusakan lingkungan bumi, baik darat, air maupun udara, akan berimbas dan berdampak negatif bagi manusia. Selain bencana alam yang silih berganti dan iklim yang mengalami anomali, kerusakan dan pencemaran lingkungan terbukti memicu munculnya penyakit baru atau bangkitnya penyakit lama yang sangat mengganggu kesehatan manusia.

Menyadari besarnya bahaya dan dampak yang muncul akibat kerusakan lingkungan, termasuk pencemaran bumi, air dan udara, SMF berupaya semaksimal mungkin untuk mengambil peran dan terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan/bumi. Apalagi, Perseroan menyadari bahwa usaha-usaha pelestarian lingkungan tidak harus dilakukan dengan cara yang besar, rumit dan mahal, tetapi juga dengan melakukan hal-hal kecil dan sederhana. Upaya yang bisa dilakukan, antara lain;

  1. Memberikan perlakuan khusus kepada limbah, seperti diolah terlebih dahulu sebelum dibuang, agar tidak mencemari lingkungan,
  2. Melakukan penanaman pohon pada lahan-lahan yang kritis, tandus dan gundul, serta meminimalkan penebangan pohon agar kelestarian hutan, daerah serapan dan sumber air serta fauna yang ada di dalamnya dapat terjaga,
  3. Menciptakan dan menggunakan barang-barang hasil industri yang ramah lingkungan.
  4. Menghemat penggunaan kertas dan pensil,
  5. Memilah dan membuang sampah sesuai jenisnya (organik dan anorganik),
  6. Memanfaatkan barang-barang hasil daur ulang,
  7. Menghemat penggunaan listrik, air, dan bahan bakar minyak (BBM), serta
  8. Menanam dan merawat pohon di sekitar lingkungan.

Di dunia usaha, gerakan Go Green juga semakin populer dan seringkali mempengaruhi keputusan bisnis yang penting. Kesadaran untuk mengurangi konsumsi karbon per orang per kapita (carbon footprint) secara signifikan berdampak mengurangi konsumsi sumber energi fosil yang tidak bisa diperbarui seperti minyak bumi, gas dan batu bara, mengurangi konsumsi material yang berasal dari sumber daya kritis seperti kayu dan air tanah, serta mengurangi penggunaan bahan-bahan tidak ramah lingkungan seperti plastik dan deterjen.

Para pelaku usaha telah memahami bahwa di dalam aktivitas Go Green terdapat nilai finansial yang menguntungkan melalui penurunan biaya operasional sebagai dampak dari efisiensi penggunaan listrik, BBM, air, peralatan kantor (kertas, toner printer dan fotokopi).

Sebagai bentuk partisipasi dan kesadaran dalam gerakan Go Green bersama masyarakat dunia, SMF terus melakukan berbagai inisiatif efisiensi di setiap aspek kegiatan Perseroan. Sebagai pelaku usaha yang bertanggung jawab, kami terus berupaya membumikan kepedulian untuk kelestarian bumi melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakan selama tahun 2017.

Gerakan paling awal, SMF terus mengkampanyekan pentingnya meningkatkan kesadaran peduli lingkungan di lingkungan kantor. Dalam pengelolaan gedung yang dimiliki sendiri, kami lebih leluasa dalam menerapkan berbagai kebijakan terkait efisiensi penggunaan listrik, air dan pendingin udara. Secara terus-menerus kami menghimbau karyawan untuk bijak dalam menggunakan kertas dengan mengoptimalkan teknologi informasi untuk korespondensi secara paperless, serta langkah-langkah sederhana lainnya. (103-2)

MENGGUNAKAN KERTAS DENGAN BIJAK

Perseroan menyadari bahwa proses pembuatan kertas membutuhkan bahan baku pohon usia 5 tahun ke atas dalam jumlah besar. Untuk menghasilkan 1 rim kertas A4, sekadar gambaran, dibutuhkan satu batang pohon usia lima tahun. Industri kertas juga menghasilkan limbah yang sangat besar, baik secara kuantitatif dalam bentuk cair, gas, dan padat, maupun secara kualitatif. Dengan demikian, banyak sekali dampak lingkungan yang terjadi, baik dampak langsung maupun dampak jangka panjang yang berkontribusi pada pemanasan global dan kerusakan lingkungan.

Untuk mengurangi penebangan pohon sebagai bahan baku kertas, SMF berkomitmen untuk untuk menghemat penggunaan kertas. Upaya yang dilakukan, antara lain, mengoptimalkan penggunaan kertas bekas dokumen yang tidak bersifat rahasia untuk digunakan kembali pada sisi lainnya yang masih kosong untuk keperluan-keperluan internal. Konsep paperless office kami aplikasikan semaksimal mungkin dengan mengoptimalkan penggunaan media internet untukberbagai aktivitas administrasi kantor sehingga diperoleh efisiensi konsumsi kertas yang terukur dan terus membaik dari tahun ke tahun. (103-2)

Dengan mengasumsikan bahwa jenis kertas yang paling banyak digunakan adalah kertas fotokopi A4/70 gram, secara perhitungan dapat diketahui bahwa konsumsi kertas pada tahun 2017 mencapai 935 rim, naik 27,21% dibanding tahun 2016 dengan penggunaan kertas sebanyak 735 rim. Jika dikalkulasi dalam ton, maka pada tahun 2017, penggunaan kertas tercatat sebesar 2,04 ton, naik dibanding tahun 2016 sebesar 1,6 ton. Kenaikan terjadi seiring dengan meningkatnya jumlah pelatihan yang mengharuskan penggunaan kertas sebagai bahan/materi pelatihan. (103-2) [301-1]

X

KONSUMSI ENERGI

Penggunaan energi dalam aktivitas operasional SMF adalah penggunaan bahan bakar minyak (BBM), baik untuk kendaraan operasional (bensin) maupun genset (solar) serta konsumsi listrik. Kami berupaya menggunakan sumber- sumber energi secara efisien dengan menyiapkan sistem, sarana dan prasarana untuk menekan biaya operasional yang berhubungan dengan konsumsi BBM dan listrik. (103-2)

Bahan Bakar Minyak (BBM)

Data konsumsi BBM untuk aktivitas operasional di SMF tahun 2017 dan perbandingannya dengan tahun 2016 dan 2015 adalah sebagai berikut:

x

Dengan mengkonversi BBM bensin dan solar dari satuan liter ke Gigajoule (10-9 Joule) dengan memperhatikan nilai kalori masing-masing, maka total konsumsi BBM pada tahun 2017 mencapai 850,30 Gigajoule (GJ), naik 4,83% dibanding tahun 2016 dengan penggunaan BBM sebesar 811,14 Gigajoule (GJ).

Listrik

SMF mempunyai beberapa kebijakan terkait efisiensi daya listrik di kantor Perseroan. Di antaranya adalah pengaturan jadwal mematikan lampu untuk penggunaan gedung (pagi dan malam), himbauan kepada seluruh karyawan untuk mematikan lampu dan peralatan listrik lainnya (komputer, charger) setiap meninggalkan ruang kerja, mematikan lampu toilet setelah digunakan, dan menggunakan lampu penerangan secukupnya pada ruangan yang mendapat sinar matahari karena dindingnya menggunakan panel kaca.

Selain itu, sistem pendingin udara (AC) dibatasi suhu paling rendah 22 derajat Celcius di semua ruang kerja dan ruang rapat yang sedang digunakan, kecuali ada kebutuhan temperatur tertentu seperti pada ruang server. Sementara itu, saat istirahat, sistem AC dimatikan. (103-2)

Pada tahun 2017, konsumsi listrik tercatat sebesar 312.824 Kwh, atau 1.166.646 Gigajoule, naik 5,38% dibanding tahun 2016 sebesar 296.846 Kwh, atau 1.068.646 Gigajoule. Peningkatan penggunaan listrik terjadi karena ada tambahan gedung baru beserta peralatan pendukungnya. (103-3)

x

EFISIENSI PENGGUNAAN SUMBER DAYA AIR

Air yang yang digunakan di kantor Perseroan dipasok oleh perusahaan air minum (PDAM). Volume penggunaan air PDAM ditunjukkan pada tabel di bawah yang secara keseluruhan memperlihatkan volume pemakaian yang stabil dalam 3 tahun terakhir. (103-3)

Pada prinsipnya, kami ingin menggunakan air secara bijaksana. Sebagai sosialisasi gerakan efisiensi, dilakukan himbauan-himbauan agar menggunakan air secara efisien. Kondisi jaringan pipa dan keran air diperiksa secara rutin dan segera dilakukan perbaikan/penggantian bila ada pipa, keran atau valve yang bocor/rusak. Keran/valve distribusi akan ditutup setelah jam kerja. Upaya penghematan lain adalah mematikan stopkran setelah jam kerja, serta memanfaatkan air tampungan untuk kegiatan rutin, seperti menyimari tanaman. (103-2)

x

PERHITUNGAN EMISI GAS RUMAH KACA

Setiap kegiatan operasional Perseroan dipastikan ikut berkontribusi melepaskan gas rumah kaca (GRK) terutama akibat emisi gas buang kendaraan operasional dan genset. Oleh karena itu, walaupun belum ada data perhitungan mengenai jumlah pengurangan emisi CO2, Perseroan melakukan beberapa inisiatif yang diyakini dapat berdampak pada pengurangan emisi gas buang seperti kegiatan uji emisi untuk kendaraan operasional secara berkala dan melakukan servis berkala yang diperlukan agar mesin kendaraan tetap bekerja dengan pembakaran sempurna.

Emisi Langsung (Cakupan 1)

Sumber emisi GRK paling utama adalah pembakaran bahan akar dimana sumber pembakaran bahan bakar dikelompokkan ke dalam 2 (dua) kategori, yaitu sumber bergerak (kendaraan operasional) dan sumber tidak bergerak/stasioner (genset). Jenis GRK utama hasil pembakaran bahan bakar adalah karbon dioksida (CO2), Metana (CH4) dan N2O.

Metode penghitungan emisi GRK yang paling sederhana adalah perkalian total konsumsi bahan bakar (dalam GJ) dengan faktor emisi (FE). FE adalah koefisien yang menunjukkan banyaknya emisi per unit bahan bakar dikonsumsi dalam satuan Ton/GJ. Dalam hal ini faktor emisi yang digunakan adalah faktor emisi default (IPCC 2006 GL). Tabel FE berikut ini adalah FE dari BBM bensin (kendaraan operasional/sumber bergerak) dan solar (genset/sumber tak bergerak) untuk perhitungan emisi GRK Perseroan. (103-3)

x

Menggunakan FE tersebut, diketahui bahwa emisi GRK langsung yang berasal dari kegiatan Perseroan selama tahun 2017 mencapai 59,05 juta ton seperti pada tabel berikut: [305-1]

 

Emisi Tidak Langsung (Cakupan 2)

Sumber emisi GRK tidak langsung (cakupan 2) yang berasal dari energi dari luar adalah jumlah konsumsi listrik (dalam kWh) per tahun. Dengan faktor pengali konversi 0,891 kg/kWh (berdasarkan Surat Menteri ESDM No. 3783/21/600.5/2008), maka jumlah emisi GRK tidak langsung diketahui pada tahun 2017 mencapai 278,73 ton per tahun, sedangkan tahun 2016 mencapai 264.49 ton per tahun. Terdapat kenaikan 5,38% dibandingkan tahun sebelumnya. (103-3) [305-2]

x

Saat ini Perseroan tidak memiliki data emisi bruto GRK tidak langsung lainnya (cakupan 3) yang bersumber dari aktivitas Perseroan namun berasal dari sumber yang tidak dimiliki atau dikontrol oleh Perseroan seperti bahan bakar dalam kendaraan (termasuk kendaraan angkutan) yang tidak dimiliki atau dikontrol oleh Perseroan. [305-3]

PENGELOLAAN LIMBAH

Kegiatan usaha Perseroan tidak menghasilkan limbah yang mengandung bahan pencemar yang harus dikelola secara khusus. Limbah kertas bekas dokumen dimusnahkan menggunakan mesih menghancur kertas. Sedangkan perangkat IT yang sudah tidak digunakan, bila masih mempunyai nilai ekonomi dijual dengan cara lelang dan hasilnya disetorkan ke rekening Perseroan sebagai pendapatan lain-lain. (103-3) [306-2]

AKTIVITAS CSR UNTUK LINGKUNGAN TAHUN 2017

Sebagai bagian dari kepedulian kami terhadap lingkungan, pada tahun 2017 SMF kembali melakukan kegiatan penanaman pohon sebanyak 1.400 pohon di Kertasari, Bandung, bersinergi dengan PT BUMN HL. Selain itu, Perseroan juga menanam 1.000 mangrove di Pantai Beting, Muara Gembong, Bekasi. Penjelasan lengkap mengenai kegiatan tersebut disajikan pada bagian Kinerja Sosial pada Laporan Keberlanjutan ini.

 

119
SMF
Laporan Berkelanjutan 2017