Download PDF

Membentuk Masa Depan Yang Berkelanjutan

Kepemilikan rumah merupakan kebutuhan asasi bagi setiap orang. Dengan memiliki rumah, mereka bisa berlindung dari berbagai ancaman, memberikan rasa aman dan nyaman, serta bisa menikmati kehidupan, beristirahat, bersuka cita, atau mengerjakan berbagai hal produktif. Namun, masih banyak orang, terutama Masyarakat Berpenghasilan Rendah, yang belum memiliki rumah. Itu sebabnya, backlog perumahan masih menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah. Menurut Badan Pusat Statistik, backlog perumahan pada tahun 2015 mencapai sebesar 11,4 juta. Untuk itulah, pemerintah melansir Program Satu Juta Rumah pada tahun 2015.

Sebagai korporasi yang bertanggungjawab, PT Sarana Multigriya Finansial ikut berperan aktif mengurangi backlog dengan menawarkan sistem pembiayaan perumahan sekunder yang menghubungkan sektor perumahan dengan pasar modal melalui efek beragun aset maupun obligasi. Untuk memperkuat pasar pembiayaan sekunder, pada tahun 2017, SMF mengintensifkan kerja sama dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan melaksanakan pilot project pengembangan program KPR SMF dengan menggandeng beberapa perusahaan multifinance. Dengan berbagai upaya itu, SMF optimistis bahwa kepemilikan rumah, termasuk bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah, semakin meningkat, yang sangat membantu mereka dalam membentuk masa depan yang berkelanjutan.

Ikhtisar Kinerja Keberlanjutan

Ikhtisar Obligasi

SMF memberikan pinjaman jangka menengah/panjang kepada penyalur pembiayaan perumahan yang pendanaannya bersumber dari ekuitas, untuk kemudian digantikan dengan dana dari hasil penerbitan surat utang. Hal ini dilakukan mengacu kepada Peraturan Presiden No.19 tahun 2005 yang terakhir diubah dengan Peraturan Presiden No.101 tahun 2016 dan dalam rangka peningkatan kapasitas pembiayaan perumahan.

SMF menerbitkan surat utang melalui penawaran umum (obligasi) dan penawaran terbatas (medium term notes/MTN). SMF sudah menerbitkan surat utang semenjak tahun 2009 dan hingga 31 Desember 2017, SMF sudah menerbitkan sebanyak 29 kali dengan total Rp19,22 triliun terdiri 20 kali penerbitan obligasi (penawaran umum) sebesar Rp15.861 miliar, dan 9 kali Medium Term Notes (Penawaran terbatas) sebesar Rp3.358 miliar (termasuk didalamnya penerbitan Sukuk Mudharabah SMF I melalui penawaran terbatas).

Penerbitan surat utang ini bagian dari upaya pengelolaan likuiditas SMF untuk menjalankan amanat Peraturan Presiden No.19/2005 yang terakhir diubah dengan Perpres No.101/2016 tentang Pembiayaan Sekunder Perumahan. Dalam peraturan tersebut SMF dapat memberikan fasilitas pinjaman jangka menengah/ panjang kepada bank dan/atau lembaga keuangan lainnya untuk disalurkan kepada KPR dengan menggunakan ekuitas terlebih dahulu untuk kemudian digantikan dana dari hasil penerbitan surat utang sehingga terjadi kelipatan dalam penyalurannya.

Aksi Korporasi

Untuk menopang kegiatan usaha SMF terutama pinjaman yang diberikan, SMF melakukan penerbitan surat utang baik berupa obligasi, Medium Term Notes (MTN), dan Sukuk. Tahun 2017, Perseroan menerbitkan efek bersifat utang berupa obligasi dengan skema berkelanjutan dan diversifkasi pendanaan dengan menggunakan skema syariah melalui penerbitan Sukuk Mudharabah dengan rincian sebagai berikut: